Selamat Datang, Para Penjelajah!

Bersiaplah untuk menjelajahi dunia ciptaan imajinasi dari para pencipta dunia dari Indonesia. Dunia-dunia penuh petualangan, keajaiban dan tentunya konflik antara kebaikan dan kejahatan. Maju terus para penulis fantasi Indonesia! Penuhi Takdirmu!

Fantasy Worlds Indonesia juga adalah blog resmi dari serial novel, komik, game dan multimedia FireHeart dan Evernade karya Andry Chang yang adalah versi Bahasa Indonesia dari NovelBlog berbahasa Inggris Everna Saga (http://fireheart-vadis.blogspot.com) dan FireHeart Saga (http://fsaga.blogspot.com)

Rubrik Utama Fantasindo

18 August 2009

Hide and Seek - Bagian 1

By: Excelsior


Ada sebuah larangan

Dilarang bermain petak umpet setelah maghrib.

Jika larangan itu dilanggar

maka akan terjadi hal yang sangat mengerikan.

Pada suatu siang yang cerah, seorang anak perempuan berusia sekitar 10 tahun berlari menuju rumahnya yang terletak di pinggir sebuah desa kecil. Ia baru saja pulang dari sekolah.

“Emak, Nurul laper nih. Ada makanan apa ?”

Ibunya tersenyum sambil menjawab, “Ada tempe sama ikan teri. Tapi jangan lupa cuci tangan dulu ya ?”

Gadis kecil bernama Nurul itu mengangguk, lalu pergi ke belakang rumahnya. Ketika sedang mencuci tangannya, tiba-tiba seorang anak laki-laki sebaya dengannya datang.

“Hey Nurul, sore ini kita maen yuk ?”

“Maen ? Maen apa, Soleh ?”

“Maen petak umpet. Aku udah ngumpulin anak-anak, tinggal kamu aja.”

Mendengar itu, Nurul terkejut.

“Eeh, ta.. tapi kan, nggak boleh maen petak umpet abis maghrib ? Kata emak, bisa bahaya.”

Sambil tersenyum mengejek, Soleh berkata, “Alaaa, itu kan cuma alasan supaya kita nggak pergi maen. Udah deh, kamu mau ikut ato nggak ?”

Nurul terdiam. Akhirnya Soleh berkata lagi, “Kalo kamu nggak mau, kita nggak temenan lagi !”

“E.. eh, i.. iya deh, Nurul ikut. Tapi Nurul tetap temenan sama Soleh ya ?”

Soleh tersenyum.

“Begitu dong. Nanti setelah sholat maghrib, kita ketemu di belakang masjid. Jangan lupa ya ?”

Nurul mengangguk, lalu Soleh pergi.

Petang harinya, gema ‘Allahu Akbar...’ menggema di seluruh penjuru desa. Nurul dan ibunya, sama seperti yang lainnya, segera bersiap pergi ke masjid. Tetapi di dalam hatinya, sebenarnya Nurul merasa takut.

Ya Allah, apa yang harus Nurul lakukan ? Nurul takut, tapi kalau tidak mau, nanti Soleh nggak mau temenan sama Nurul lagi.

Akhirnya setelah menjalani sholat maghrib, Nurul pergi juga ke belakang masjid. Disana telah menunggu Soleh dan teman-temannya, bahkan ada beberapa anak yang sepertinya berasal dari desa sebelah.

“Akhirnya dateng juga kamu, Nurul. Kita udah nungguin kamu dari tadi lho.”

“So.. Soleh !”, Nurul tampak terkejut, “Kamu.. nggak ngikutin khotbah ustad ?”

“Lagi males.”, jawab Soleh dengan setengah acuh, “Udahlah, nggak usah jadi anak sok alim. Paling khotbahnya sama aja kayak kemarin-kemarin ini khan ?”

“Soleh, nggak baik bilang kayak gitu lho !”

“Iya deh, laen kali aku pasti ikutin kok. Sekarang kita main yuk !”

Lalu bersama-sama mereka pergi ke pinggiran desa, agar tidak ada orang dewasa yang melihat. Setelah melakukan hom-pim-pa, ternyata yang mendapat giliran jaga pertama adalah Nurul.

“Nurul, kamu itung sampai 50 ya ? Dan jangan ngintip !”, demikian pesan Soleh.

Nurul mengangguk, kemudian menghadap pohon dan mulai menghitung.

“Satu ... dua ... tiga ............. tiga puluh lima ... tiga puluh...”, tiba-tiba saja suatu perasaan aneh menghinggapi Nurul; Perasaan cemas yang luar biasa.

Dengan perlahan, ia membuka matanya lalu menengok ke belakang. Suasana sekelilingnya sangat gelap, bahkan di langit tidak terlihat bintang satu-pun.

“So.. Soleh, teman-teman !”

Nurul berjalan dengan penuh rasa takut, berusaha mencari Soleh dan teman-temannya di dalam kegelapan.

Setengah jam kemudian.

Nurul dengan terburu-buru masuk ke dalam rumahnya. Ketika melihat Nurul masuk, ibunya langsung memarahinya.

“Nurul, kamu pergi kemana aja ? Kenapa kamu menghilang begitu saja selesai shalat ?”

“E.. emak, ga.. gawat ! Soleh, dia.. dia...”, Nurul terbata-bata.

“Tenang dulu, Nurul.”, lalu ibunya menyodorkan segelas air padanya, “Nih, minum dulu.”

Nurul langsung meneguk habis air dalam gelas tersebut. Setelah menenangkan diri, akhirnya Nurul berkata, “Emak, Soleh dan teman-temannya menghilang !”

“A.. APA ?! Apa maksudmu ?”

“Maaf emak, tapi tadi selesai shalat, Nurul pergi ke belakang masjid untuk menemui Soleh. Kami mau main petak umpet.”

“Main petak umpet ?!”, wajah ibu Nurul langsung berubah karena marah, “Nurul, bukannya emak selalu peringatin kamu, jangan main petak umpet selewat maghrib ?! Kamu lupa ya ?!”

Nurul tidak menjawab, hanya menunduk, tidak berani menatap wajah ibunya.

“Kita harus kasih kabar ke orang tua Soleh. Kamu musti ikut !”

Nurul mengangguk, lalu ia mengikuti ibunya keluar rumah. Tak lama, mereka sudah berada di rumah Soleh. Ibunda Soleh langsung jatuh lemas begitu mendengar bahwa Soleh bermain petak umpet. Melihat itu, Nurul merasa ada hal yang disembunyikan oleh para orang dewasa di desa ini. Tetapi ia tidak menanyakannya. Ayah Soleh meminta bantuan beberapa laki-laki dewasa untuk mencari Soleh dan teman-temannya. Dan Nurul diminta menunjukkan tempat dimana mereka bermain petak umpet. Malam semakin larut, dan mereka mulai mencari dalam gelap. Nurul hanya bisa duduk menunggu dengan perasaan bersalah, karena tidak melarang Soleh. Sekitar dua jam kemudian, pencarian dihentikan dan Soleh serta teman-temannya dinyatakan hilang tanpa jejak. Tampak jelas kekecewaan bercampur rasa sedih pada wajah kedua orang tua Soleh, tetapi mereka tidak bisa berbuat apa-apa. Dan bayangan wajah keduanya terekam jelas dalam ingatan Nurul, sampai ia dewasa.

No comments:

Berita Antar Dunia

Pusat Berita Dunia-Dunia