
Nyanyian Alam
Andry Chang
Pagi oh pagi, hai hijau asri
Bayam sesawi, kekasih hati
Cerah daunmu dibelai mentari
Merekah indah bagai permadani
Lebah, kupu-kupu merindu bungamu
Sang angin membimbing tarimu
Tanah, air, langit berpadu
Merajut hari dalam kidung merdu
Itulah suara merdu seorang gadis muda, diiringi kicau burung dan desir angin yang berpadu bak simfoni. Gadis itu berdiri di tengah hamparan tanaman sayur. Matahari mengintip malu-malu dari balik gunung dekat tempat tinggalnya, Desa Phonari di Kerajaan Ardelkay, menghangatkan tanah dan menitipkan embun di dedaunan.
Gadis itu terus bernyanyi, diselingi senyum dan sorot mata indahnya yang menarik hati. Dengan telaten ia menyirami tiap tanaman, mencabut perdu pengganggu dan menggemburkan tanah dengan sekop di tangannya.
Sementara itu, tak jauh dari sana seorang pria muda melintas di jalan setapak. Perawakannya gagah dan wajahnya cukup tampan. Ia berjalan dengan langkah-langkah cepat, seolah tengah mengejar sesuatu. Sebuah kapak tersandar di bahunya.
Tiba-tiba langkah pria itu terhenti. Ia lalu berbalik dan berjalan menghampiri wanita di kebun sayur itu.
Setelah cukup dekat ia berseru, “Fyanei!”
Si wanita menengok, dan kembali tersenyum sambil menyahut akrab, “Pagi, Geoff! Mau ke hutan lagi?”
“Iya,” jawab Geoff riang. “Kali ini kami akan menggarap lereng gunung. Pohon-pohon di sana besar-besar dan kokoh. Pasti harga kayunya akan tinggi di kota!”
Fyanei ternganga mendengarnya. “L-lereng gunung, katamu?”
Geoff mengangguk dan dahinya mengernyit. “Memangnya kenapa?”
“Apa kau tak tahu mengapa akar dan batang pohon di sana amat kokoh?” suara Fyanei meninggi. “Karena itu untuk meredam aliran air dari puncak gunung tiap kali hujan deras, mencegah banjir dan tanah longsor!”
“Ah, masa? Jangan mengada-ada, Fya. Dari mana kau tahu tentang itu?”
Fyanei terdiam sejenak.
“... Pohon-pohon itu yang memberitahuku,” ujar gadis itu akhirnya.
Mendengarnya, Geoff tercekat sejenak. Raut wajahya lantas berubah menjadi senyum geli disusul tawa terbahak-bahak.
“Hahaha... Ya ampun, Fya! Pohon... bicara padamu? Hei, aku tahu sejak lama bahwa tanaman bisa lebih subur dengan nyanyian dan musik. Tapi kalau sampai tanaman yang bicara padamu...?”
Fyanei mendelik dan protes, “Kau tak percaya padaku? Kita kan sudah berteman sejak kecil, Geoff. Ya, memang aku merahasiakannya darimu selama ini, tapi bukankah kau seharusnya menyadarinya saat membantuku menggarap kebun?”
“Ya, tapi tak kusangka sejauh itu. Ini tak masuk akal, Fya. Mungkin kau hanya berkhayal terlalu banyak sejak ayahmu berpulang dan kau tinggal sebatang kara di sini. Tolong, hentikan saja itu, demi kesehatanmu.”
“Tapi, aku tidak...”
Geoff mengibaskan tangannya, “Sudahlah, tak udah berdebat lagi. Apapun kata teman-teman ‘pohon’-mu itu, aku bersama sekelompok penebang sedang membuka jalan untuk hidup yang lebih baik. Aku tak mau kesempatan ini lewat karena terlambat! Banjir, tanah longsor? Mustahil ada bencana seperti itu di desa kita yang terlindung gunung ini. HAHAHA!”
Sambil tertawa Geoff berbalik dan melangkah pergi. Fyanei mengulurkan tangan ingin mencegah, namun kembali ditariknya.
Dia tak percaya padaku, aku tak berhasil membujuknya. Menebang kayu adalah mata pencariannya, batin Fyanei. Maaf... teman-teman.
Tiba-tiba sebuah suara berdesis bagai hembusan angin, Aih, orang-orang bodoh dan serakah itu... Haruskah mereka didera supaya jera?
Tentunya Fyanei menjawab dengan suara batin, Mungkin saja. Tapi ingat, masih ada orang-orang tak berdosa yang akan terkena akibatnya pula. Justru kita harus mencari cara lain untuk membujuk Geoff dan kelompoknya.
Kalau kami membisiki mereka, bisakah mereka mendengar? Maukah mereka?
Fyanei menjentikkan jarinya. “Bisikan?” ujarnya. “Aku punya ide! Mungkin ini bisa menyadarkan para penebang pohon itu!”
Dengan wajah kembali berseri-seri, Fyanei membawa serta peralatannya dan bergegas meninggalkan kebunnya.
==oOo==
Tiba di hutan di gunung berlereng landai itu, Fyanei terus membuntuti Geoff diam-diam. Seperti dugaannya, lokasi penebangan terletak di dekat puncak gunung, persis di lereng yang curam.
Fyanei lalu sembunyi di balik sebuah pohon, memata-matai sekelompok pria yang sedang sibuk mengayun kapak. Perhatiannya terpusat pada Geoff yang sedang menghampiri seorang pria bertubuh besar.
Pria besar berwajah berewokan yang rupanya adalah ketua kelompok penebang pohon menghardik keras, “Kamu terlambat, Geoff! Upahmu hari ini terpaksa kupotong!”
Geoff menjawab dengan suara memelas, “Maaf, pak, ini gara-gara temanku yang mendebatku tadi. Ia membujukku agar tak menebang pohon di lereng gunung ini. Lereng yang gundul bisa mengakibatkan tanah longsor dan banjir.”
“APA? Hahaha, coba pikir, mana mungkin terjadi tanah longsor di gunung landai ini? Temanmu itu tahu apa? Sudahlah, bantu kelompok Hendrick sana! Kita harus dapat sedikitnya lima belas batang sebelum matahari terbenam!”
“Siap!” Geoff melesat pergi.
Fyanei kembali mengamati situasi di sekitarnya. Pohon-pohon yang besar nan kokoh ini, juga jalan setapak yang melintasi hutan ini, sepertinya pernah dikunjunginya sebelumnya. Samar-samar ia melihat seseorang berlari melonjak-lonjak, menghampirinya dari jalan setapak. Seorang gadis kecil berwajah manis yang sangat dikenalnya. Dirinya sendiri saat kanak-kanak dulu.
Anak perempuan itu tampak sedang mengejar kupu-kupu. Kupu-kupu itu terbang tinggi, berbelok dan makin menjauh, dan Fyanei kecil malah menabrak pohon. Ia jatuh terjengkang dengan kepala benjol.
“Aduuuh! Pohon menyebalkan, kubalas kau!” Kesal, Fyanei kecil menendang pohon itu kuat-kuat, lalu berjingkrak memegangi kakinya yang kesakitan. “Aw! Aw! Aww!”
Terdengarlah suara seorang pria. “Fya! Ayah kan sudah bilang, hati-hati kalau main di hutan!” Fyanei terkesiap, mengenali pria berusia empat puluhan yang matanya mirip dengannya ini.
Fya kecil merajuk, “Tapi gara-gara pohon ini...”
Sang ayah menyela, “Hei, kau tahu kan itu bukan salah pohon. Dia hanya berdiri saja, tak bergerak. Kau sendirilah yang menabraknya. Justru kaulah yang harus minta maaf padanya karena kecerobohanmu itu.”
“Apa? Aku harus minta maaf pada pohon?”
“Persis,” jawab pria berkumis tipis itu sambil mengangguk mantap. “Ingat baik-baik, anakku. Tumbuhan dan pohon itu makhluk hidup, sama seperti hewan, makhluk-makhluk gaib dan sesama kita manusia. Mereka bukan sekedar penyedia makanan, kayu, keteduhan bagi manusia, tapi lebih dari itu. Pohon dan hutan berperan besar mengatur dan menyeimbangkan alam, menjaga agar kehidupan segala makhluk tetap harmonis, sehat, damai dan bahagia. Kita harus bersahabat dengan pohon, merawatnya dengan baik dan mengambil dengan sewajarnya sesuai dengan kebutuhan kita. Dengan demikian, mereka juga akan merawat kita dan menjagai kita, menghindarkan kita dari berbagai bencana alam. Apa kau mengerti, Fya?”
“Ya, ayah,” ujar Fya kecil.
“Nah, sekarang kau minta maaflah pada pohon ini.”
“A-apa? Maksud ayah, aku harus BICARA padanya?”
Sekali lagi si ayah mengangguk.
“Oh, baiklah,” ujar Fya kecil sambil menaikkan bahu, lalu membelai pohon yang tadi ditendang dan ditabraknya itu. “Maaf ya, pohon. Kita bersahabat, kan?”
“Katanya, ya, kita ini sahabat,” ujar si ayah. Wajah Fya mengernyit bingung, kata-kata ayahnya itu terdengar aneh. Apalagi saat dilihatnya si ayah mendekat ke sebuah pohon lain lalu... bicara dengannya.
“Jadi bagaimana? Bukankah lebih baik dia bisa bicara dengan Dryad sekarang?”
Lebih aneh lagi, Fya kecil tiba-tiba mendengar suara selain ayahnya menjawab, Baiklah, aku sudah membuka kunci kemampuannya ini. Kelak kau harus mendidiknya lebih baik lagi. Bagaimanapun juga, walau ia setengah Dryad, aku yakin ia akan tumbuh secantik mendiang ibunya.
Itulah saat pertamakali Fyanei menemukan dan mengetahui asal-usul bakatnya ini. Suara pohon tumbang menyadarkan gadis itu dari lamunannya, teriring pekik memilukan dari salah satu sahabatnya.
Dengan geram Fyanei berdesis, “Pohon adalah sahabat manusia, tak lain, tak bukan.”
Pesan ayahnya dari kenangan tadi membulatkan tekad Fyanei, yang diwujudkannya lewat aksi. Dibukanya tutup corong ember seng penyiram tanaman yang dibawanya. Ia bicara ke dalam corong itu, “Hentikan... Jangan bunuh kami.”
Suaranya yang dibuat-buat jadi lebih besar dan bergema. Walhasil, “suara misterius” itu membuat para penebang berhenti bekerja, menoleh ke kanan-kiri dengan wajah kebingungan.
Si ketua bahkan berseru, “Siapa kau? Tunjukkan dirimu!”
Umpannya mengena, Fyanei melanjutkan, “Kami adalah para Dryad, roh pohon-pohon yang hendak kalian tebang. Tidakkah kalian sadar, membunuh kami hanya akan mendatangkan bencana bagi desa kalian?”
“HUH! Kau dengar kataku tadi, kan? Takkan ada bencana! Sebaiknya kalian jadi tiang bangunan saja di kota! Itu lebih berguna daripada jadi onggokan kayu tak bergerak di sini!” Tangan si ketua melambai, mungkin karena emosi.
“Tak bergerak, katamu? Justru kamilah yang terus berjaga di sini, menyerap aliran air dengan akar-akar kami tiap kali hujan turun. Seharusnya kalian sadar... ulpp!”
Mendadak sepasang tangan membekap mulut Fyanei dan meringkusnya. Gadis itu meronta, tapi sia-sia. Ia hanya bisa pasrah digiring.
“Pak Ketua, ini dia si ‘Dryad’!” ujar si peringkus.
“Bagus, Todd. Seperti dugaanku, Dryad mustahil ada kecuali dalam khayalan gadis pengganggu ini,” ujar si ketua dengan nada mengejek.
Fyanei protes, “Dryad itu ADA! Merekalah yang memperingatkanku tentang bahaya ini! Selama ini mereka membiarkan kalian menebangi pohon secukupnya di hutan sekitar desa, tapi kalau sampai merambah di gunung... ini keterlaluan!”
“Kamu yang keterlaluan!” bentak si ketua, yang lalu bicara pada para anggotanya. “Ikat dia! Biar nanti kepala desa yang menentukan hukumannya!”
Seketika, Geoff menyeruak dan berseru, “Pak Ketua, tolong ampuni dia! Ini Fyanei, sahabatku! Dia agak naif dan suka berkhayal berlebihan, tapi dia selalu bermaksud baik, bukan ingin menyabot pekerjaan kita atau semacamnya!”
“Ooh, begitu rupanya,” ujar si ketua, senyumnya membuat wajahnya makin tak enak dilihat. “Baiklah Fyanei, kau kuampuni kali ini. Tapi kalau kau sampai berulah lagi, demi Mithra, aku takkan segan lagi, kawan Geoff atau bukan. Bawa peralatanmu dan pulanglah! Geoff, kau kawal dia!”
Fyanei malah berseru, “Tolong pak, jangan remehkan peringatan para Dryad! Mereka itu...”
“Sudah kubilang, AKU ini ahlinya! Menurut perhitunganku mustahil terjadi bencana! Jangan coba menguji kesabaranku lagi, nona! Jangan paksa aku keras pada wanita!”
Sebelum Fyanei sempat bicara lagi, Geoff cepat-cepat menariknya menjauh.
“Percuma saja membujuknya,” bisik Geoff. “Ia takkan mau menerima saran apapun dari anak muda belum berpengalaman seperti kita.”
“T...tapi...” Mata Fyanei berkaca-kaca.
Geoff tak mau dengar lagi. Ia terus menarik gadis itu menjauhi masalah.
Malamnya, Fyanei menemukan dirinya kembali ke lokasi penebangan pohon tadi. Sedikitnya delapan belas pohon sudah jadi tunggul. Ia berlutut dan membelai tunggul itu. Fyanei tersedu, air matanya deras menjalari wajahnya seakan ia baru kehilangan anggota keluarga atau sahabat lama.
Tiba-tiba, dari tunggul itu muncullah sebuah bayangan hijau yang bentuknya seperti manusia dengan posisi terkapar. Tak hanya itu, beberapa tunggul lainnya juga memunculkan bayangan yang sama.
Lalu, batang pohon-pohon yang masih berdiri di sekitarnya berubah wujud membentuk sosok-sosok manusia pula. Itulah wujud asli para Dryad, roh gaib penghuni pohon. Mereka berdiri mengelilingi tunggul-tunggul tadi, “tangan-tangan” mereka bergerak-gerak seakan tengah memanjatkan doa-doa.
Suara-suara lirih terdengar dalam melodi yang seragam nan beraturan. Rupanya itu nyanyian dalam Bahasa Dryad yang tak dipahami manusia, termasuk Fyanei.
Teriring gerakan-gerakan dan nyanyian itu, bayangan-bayangan pada tunggul perlahan terurai menjadi serpihan-serpihan berbentuk daun. Anginpun berhembus perlahan, menerbangkan “daun-daun” itu hingga memenuhi udara, bersebaran ke kejauhan hingga tak lagi terlihat.
Fyanei mengulurkan tangan untuk meraih serpihan daun itu. Yang diraihnya hanyalah udara. Tak hanya itu saja, pemandangan di hadapannya tiba-tiba berubah menjadi langit-langit rumahnya sendiri yang terbuat dari kayu dan jerami.
Rupanya ia baru tersadar dari mimpi. Mimpi. Namun rasanya begitu nyata. Ataukah memang nyata? Ia diundang dalam upacara para Dryad mengantar kepergian roh saudara-saudarinya yang terpisah dari raga, yang nanti akan bersatu lagi dengan tunas yang tumbuh di tempat-tempat lain?
Apapun kenyataannya.
Air matanya nyata.
Rasa sesak di dadanyapun nyata.
Ingin ia menyumbangkan nyanyian perpisahan, namun baru kini sempat dilantunkannya. Bukan dalam Bahasa Dryad, namun Fyanei tahu para sahabatnya itu memahami setiap katanya.
Oh hijau penyeimbang semesta
Di bumi ia berdiri berjaga
Surya diteduhkannya
Tirta dikendalikannya
Bayu diselimutinya
Hanya dua hal menumbangkannya
Agni dan keserakahan manusia
==oOo==
Berminggu-minggu kemudian...
Fyanei, bangun!
Suara bisikan halus berhembus, gadis terlelap bergeming dalam gelap.
Burung hantupun ribut memanggil, tetap tak ada reaksi.
Kumohon, bangun, Fyanei!
Beberapa saat kemudian Fyanei mengerjapkan mata, terjaga.
“S... Siapa itu...”
Fyanei, gunungnya longsor! Cepat peringatkan penduduk desa! Kami tak bisa menahannya lagi!
“H-HAH!?”
CEPAT!
Fyanei cepat-cepat bangkit dari tempat tidurnya dan bergegas ke luar rumah dengan pakaian seadanya. Di bawah guyuran hujan deras ia berlari, lari dan tak lama kemudian mengetuk rumah tetangganya.
“GEOFF! GEOFF!”
Tak lama kemudian pintu terbuka. Geoff muncul, menguap dan matanya setengah terbuka.
“Oh, kamu Fya, ada apa malam...”
Fyanei menyela, “TANAH LONGSOR, GEOFF! GUNUNGNYA LONGSOR!”
Reaksi Geoff, anehnya, hanya senyum mencemooh. “Tunggu dulu. Coba kutebak, pasti temanmu si ‘Dryad’ itu yang memberitahumu, kan?”
“Aku tak mau berdebat soal ini, Geoff. Kita harus peringatkan penduduk desa agar mereka mengungsi!”
“Ikut aku!” Geoff menarik lengan Fyanei dan berlari.
“Kau mau kemana? Rumah kepala desa ke arah sana!” kata gadis itu, menunjuk ke arah berlawanan.
“Ke gunung! Akan kubuktikan kau hanya berkhayal saja!”
“Tidak, aku harus ke... AAGH!”
Fyanei tergelincir, terjerembab di tanah berlumpur, basah oleh air hujan.
Tiba-tiba tubuhnya terangkat. Fyanei menyeka lumpur di matanya dan melihat Geoff yang menggendongnya sambil terus melangkah ke kegelapan.
Sebelum Fyanei sempat meminta Geoff menurunkannya, tiba-tiba ia mendengar suara gemuruh di kejauhan.
“Geoff, kau dengar itu?” serunya.
“Dengar apa?”
“Suara gemuruh! Dan itu bukan guntur!”
Geoff menghentikan langkahnya, mencoba mendengarkan. Wajahnya memucat seketika.
“K-kau benar!” serunya terbata-bata. “Suara guntur mustahil terus-menerus seperti ini!”
Fyanei berseru, “Turunkan aku! Kita kembali ke desa!”
“Tapi kakimu...”
“Tak apa! Aku tak mau melambatkanmu. Aku masih bisa jalan, kok!”
Walhasil Fyanei menjejak tanah lagi dan Geoff melesat. Saat gadis itu melangkah, nyeri menjalari kaki kirinya yang terkilir.
Geoff sudah jauh dan tanah longsor terus mengejar, lambat tapi pasti. Fyanei menoleh kanan-kiri. Harus bagaimana ini?
Hingga sebuah suara bergema, Bernyanyilah, Fyanei. Bernyanyilah pada kami.
“A-apa maksudmu? Bernyanyi?” Kata-kata si Dryad membingungkan Fyanei.
Ya. Bernyanyilah. Suaramu akan membawa keajaiban.
“Keajaiban? A-aku tak mengerti.”
Semula kami ragu kau memiliki kekuatan ini, yang lebih daripada sekedar bicara pada kami. Tapi situasinya sangat mendesak, jadi cobalah. Dengarkan lagu yang kami contohkan ini. Pusatkan seluruh pikiran dan hatimu dan senandungkanlah.
Tak ada waktu lagi untuk menyanggah. Sesuai petunjuk, Fyanei bersenandung sepenuh jiwa. Suaranya terdengar merdu, memenuhi udara walau teredam derasnya suara hujan.
Saat itu pula Fyanei melihat campuran batu dan lumpur bergulung, melanda ke arahnya bagai ombak raksasa.
Panik, Fyanei melangkah mundur. Tiba-tiba di depannya, dari dalam tanah mencuatlah batang-batang pohon, puluhan jumlahnya bagai tanggul yang berjajar sepanjang jalan setapak itu.
Mata Fyanei terbelalak. Rupanya inilah keajaiban yang dimaksud teman-temannya tadi.
Fyanei, bernyanyilah terus dan bergegaslah ke desa! Kami tak bisa terus menahannya di sini!
Gadis itu tercekat, langsung bertindak sesuai seruan para pohon. Ia terus memusatkan pikirannya pada nyanyian yang sama dan larinya yang tertatih-tatih, berpacu dengan maut.
Lebih banyak lagi pepohonan bangkit, hanya untuk tumbang lagi dihantam lumpur-bebatuan menggila. Arus longsoran berhasil diperlambat, tapi masih terlalu mampu menimbun desa di lereng gunung itu.
Sampai kakinya melangkah keluar dari hutan, gelombang longsor masih mengganas di kejauhan. Fyanei memaksa diri berlari ke desa sambil mengernyit menahan nyeri, dingin dan tegang.
Suara riuh-rendah terdengar di kejauhan. Dari jauh gadis itu mendengar orang banyak berdiri di sana. Bukankah seharusnya mereka mengungsi?
Seorang pria berdiri di tengah kerumunan sambil berteriak, “K-kalian tak mengerti! Benar, itu tanah longsor! Aku melihatnya sendiri!”
Si ketua kelompok penebang pohon menghardik, “Jangan mengada-ada, Geoff! Mustahil tanah longsor bergerak lamban!”
“Itu mungkin, karena gunungnya landai dan longsorannya sangat besar! Kumohon, percayalah! Andai bukan padaku, setidaknya percayalah pada Fyanei yang sudah berkorban demi meyakinkan diriku ini,” Geoff menyeka air mata dengan lengan bajunya. “Cepatlah mengungsi, sebelum segalanya terlambat!”
Seorang pria gendut berjanggut lebat angkat bicara, “Sudahlah, tak usah pedulikan dia. Tak ada tanah longsor melanda kemari, besok pagi saja kita periksa lagi! Ayo, kita panggil kembali mereka yang terlanjur mengungsi!”
“Tapi, Pak Kepala Desa...!”
“KAMU BERANI MENYANGGAHKU, GEOFF?” bentak si gendut. “Sadarkah kalau kau sudah melakukan pelanggaran besar? Tangkap orang itu!”
Dua warga desa segera meringkus Geoff. Pemuda itu meronta sekuat tenaga sambil berteriak-teriak kalap.
“ANDA TAK MENGERTI! Nasib seluruh desa di tangan bapak, tapi sikap bapak itu tak ubahnya menggiring ternak ke rumah jagal! BEDEBAH! TIRAN! KEJAM!”
Satu tamparan menerpa wajah pemuda itu, begitu kerasnya hingga darah terciprat dari mulutnya. Si penampar tentu saja si brewok, ketua penebang.
Disusul perintah Kepala desa. “Tahan dia di Balai Desa! Kita akan bahas hukumannya besok!”
“Tunggu!”
Fyanei yang sudah cukup dekat menyela, membuat Geoff menoleh dan berseru, “F-Fya? Kukira kau...!”
Gadis itu hanya mengangguk pada Geoff lalu menceritakan kejadian yang baru saja dialaminya pada si kepala desa.
“Jadi kau bisa menumbuhkan pohon dengan nyanyian gaibmu?” Si gendut mengerutkan dahi.
Sebelum Fyanei sempat menjawab, tiba-tiba seorang wanita memekik, “LIHAT! TANAH LONGSOR!”
Dari kejauhan tampak ombak lumpur dan bebatuan menerjang bagai rahang raksasa yang menganga, siap menelan seluruh desa. Orang-orang yang melihatnya hanya bisa ternganga.
Terlambat sudah untuk menghindar. Dengan cepat Fyanei berbalik ke arah ladang gandum lalu menyanyikan senandung aneh seperti tadi di hutan.
Lebih aneh lagi, segala tanaman dalam jangkauan suara Fyanei mulai tumbuh dengan kecepatan tinggi hingga membentuk tanggul nan tebal berlapis-lapis.
Geoff berteriak, “Aih, tanggulnya kurang tinggi! Tanaman yang bereaksipun hanya sebagian di tengah hujan begini! Apa akal?”
Bisikan pada Fyanei datang lagi. Gadis itu lantas berseru, “Ayo, warga desa! Bernyanyilah bersamaku! Buat pagar betis sepanjang mungkin! Gandengkan tangan sambung-menyambung, selebihnya percayakan padaku!”
Setelah melihat sendiri kesaktian Fyanei, tanpa ragu kepala desa dan para penduduk berdiri bersisian, membentang sejauh mata memandang. Dengan tangan saling bergandeng, semua orang menyanyikan nada yang sama dengan lagu Fyanei. Walhasil daya sihir menyebar dan menguat berkali-kali lipat, membuat tanaman di sawah-sawahpun tumbuh pesat.
Geoff tentu saja berdiri di samping Fyanei, menggenggam erat tangan gadis itu sambil menatap matanya. Fyanei balik menatap sahabatnya itu, menyunggingkan senyumnya yang menawan dan terus bersenandung merdu. Apapun yang terjadi, keberadaan Geoff membuatnya tak takut apapun lagi.
Ombak lumpur itu dibendung lagi, kali ini oleh deretan tanaman gandum, jagung dan sayur-mayur yang meraksasa setinggi pohon-pohon di hutan. Sayup-sayup Fyanei mendengar rintihan pilu para Dryad sahabatnya yang kini berkorban demi desanya. Kembali air matanya berlinang.
Geoff menyentuh bahu Fyanei seraya berkata, “Ayo, kita harus menjauh.” Ia lalu memapah gadis itu yang tak henti menoleh.
Longsoran terhenti, tapi tak sepenuhnya. Sebagian lumpur itu menerobos lapis pagar tanaman terakhir, menjebol rumah-rumah di pinggir Desa Phonari. Panik, para penduduk berlarian menyelamatkan diri.
Tiba-tiba terdengarlah seruan kepala desa, “Tunggu! Lumpurnya berhenti mengalir!”
Geoff, Fyanei dan para penduduk menoleh. Benar juga, arus longsoran tak bergerak lagi. Yang terdekat dengan mereka tak lebih semata kaki tingginya, selemparan batu jauhnya. Sebagian besar rumah masih berdiri.
“Oh, syukurlah!” ucap seorang wanita sambil bernapas lega, diikuti seruan para penduduk.
“Tak ada korban jiwa!”
“I-ini... mukjizat!”
Kepala desapun angkat bicara, “Ya, saudara-saudara. Kali ini kita terluput dari maut dan kerusakanpun minimal. Kita tertimpa bencana akibat kelalaian kita sendiri, tapi Daena, Sang Pemberi Hayat masih mengasihani kita, meluputkan kita dari murka Mithra, Sang Penguasa Daratan.”
“Dan jangan lupa,” lanjutnya sambil menunjuk ke Fyanei dan Geoff, “Berkat pertolongan merekalah kita masih bisa berdiri di sini. Merekalah pahlawan pemberani, saluran pengampunan Para Vanadis.”
Kedua sahabat itu lantas tenggelam dalam kerumunan orang yang menjabat tangan dan memeluk mereka, menghujani mereka dengan ucapan terima kasih dan pujian.
Sebaliknya, Fyanei malah berlinang air mata dan terus menoleh ke arah gunung, menatap ribuan pahlawan sejati yang terkubur sudah. Benaknya berkecamuk, apakah penduduk desa sungguh mendapat pelajaran dari bencana ini?
Kulantunkan air mata di antara tawa ria
Kukenangkan gugurnya para sobat setia
Kubisikkan kesah di balik sanjungan fana
Mengapa seratus dibayar dengan selaksa
==oOo==
Beberapa hari kemudian...
Suasana sunyi kembali menyelimuti hutan di lereng gunung itu. Tak terdengar banyak suara hewan dan unggas di sana. Hanya sayup-sayup senandung seorang wanita.
Anehnya, di jalur berbatu-batu bekas longsoran itu batang-batang pohon tumbuh dengan kecepatan tak alami, mengubah tanah gundul menjadi rimbun.
Senandung terhenti sejenak. Fyanei mengambil segenggam benih pohon sebesar kenari dari tas besarnya lalu menanamnya satu-persatu di lubang-lubang yang telah ia persiapkan sebelumnya, seperti membibiti ladang sayur.
Saat gadis itu meraih ke dalam tasnya lagi, tiba-tiba ia terperanjat mendengar seorang pria berujar, “Wah, wah, sudah kuduga kau pasti kemari.”
“Geoff!?” Fyanei menoleh.
Pemuda itu tertawa renyah sambil terus bicara, “Dengan bakat barumu itu, kau ingin memastikan bencana tak terulang lagi, bukan?”
Si lawan bicara mengangguk saja sambil terus menyebar benih.
“T-tapi, tasmu itu... Jadi kau benar-benar...”
“Ya, Geoff,” ujar gadis itu. “Kau tahu kan, sejak bencana itu para penduduk menganggapku pahlawan. Mereka memperlakukanku berlebihan, bahkan memanjakanku selama aku sakit akibat kehujanan, terkilir dan kedinginan. Aku tak mau para penduduk menjadikanku pelindung desa atau memanfaatkan nyanyianku untuk meraup kekayaan. Alih-alih sadar, mereka akan jadi manja dan makin tamak.
Jadi aku harus meninggalkan Desa Phonari, tak ada pilihan lain. Mungkin aku akan ke Blackmoon, Nirvana atau daerah-daerah lain di Tanah Utama, pokoknya menetap di tempat orang-orang yang belum mengetahui bakatku ini.”
“Ya, aku mengerti,” ujar Geoff sambil berkacak pinggang. “Tapi mengapa tak pamit padaku? Apa kau menganggapku sejenis dengan mereka?”
“Aku tak bermaksud begitu. Bukankah sudah kukatakan alasannya di surat yang kutinggalkan di rumahku itu?”
Geoff malah tertawa. “Ya, ya, bercanda kok. Aku sudah baca suratmu itu, termasuk pesan pada para penduduk desa agar terus melestarikan dan menjaga keseimbangan alam. Karena itulah aku menyusulmu kemari.”
“Tapi... kau juga membawa buntelan!?” Mata Fyanei terbelalak, baru sadar melihat benda-benda yang bergelantungan di tubuh sahabatnya itu.
Geoff mengangkat bahu. “Yah, karena tak ada pohon lagi untuk ditebang, mungkin kapakku akan lebih berguna untuk melindungimu. Perjalananmu pasti akan sangat jauh dan penuh bahaya, jadi tak ada salahnya kan ada sahabat yang menemani?”
Fyanei terpaku tanpa kata-kata, matanya berkaca-kaca. Sesaat kemudian ia mengangguk lalu menyorongkan segenggam benih di telapak tangan Geoff.
“Ayo, kita selesaikan dulu pekerjaan di sini,” ujarnya.
“Siap, nona penyanyi pohon!”
“Aah, kamu ini!”
Setelah cukup banyak benih ditebar, kembali Fyanei menyanyikan lagu gaibnya. Kali ini dilantunkannya bersama syairnya.
Bangun, bangunlah hijau nan asri
Penuhi bumi dengan sari hayati
Tunas dan benih jadilah rindang
Menghijaukan lagi padang gersang
Kau yang layu, suburlah kembali
Kau yang tumbang, tegaklah kembali
Kau yang hangus, utuhlah kembali
Redakanlah amarah tanah ini
Bangun, bangunlah hijau nan asri
Iringilah nyanyian alam ini
Niscaya penuhlah arti dunia
Warisan abadi ke segala masa
Jakarta, Oktober 2011
Keterangan Istilah:
Kerajaan Ardelkay: Sebuah negeri yang terletak di tenggara Tanah Utama Vandaria. Dikenal dengan tanahnya yang subur dan dihuni kaum manusia berkulit kuning, serupa Ras Asia.
Mithra: Vanadis penguasa daratan
Daena: Vanadis penguasa kehidupan
Vanadis: Para dewa dalam kepercayaan politheis di Vandaria – disebut Religi Vhranas. Nama-nama ketigabelas Vanadis itu berbeda-beda di setiap zaman.
Blackmoon dan Nirvana: Nama-nama kerajaan di Tanah Utama Vandaria.
Tanah Utama Vandaria: Hamparan daratan terbesar yang berpenduduk paling banyak di Dunia Vandaria, juga dihuni oleh berbagai ras dan suku bangsa.
Catatan:
Cerpen ini diikutsertakan dalam Lomba Penulisan Cerpen Vandaria Saga
Website Vandaria Saga: http://www.vandaria.com
Entri Cerpen ini di Forum Vandaria.com
Entri Cerpen ini di Kemudian.com
Entri Cerpen ini di Forum Video Games Indonesia
1 komentar:
nice story, jd kepikirran kalo indonesia punya penyihir macam itu...ahihi...pasti hutan2 yang gundul bisa langsung tumbuh subur...
aku suka puisi2nya....
good luck ya buat kontesnya...
Post a Comment