Bersiaplah untuk menjelajahi dunia ciptaan imajinasi dari para pencipta dunia dari Indonesia. Dunia-dunia penuh petualangan, keajaiban dan tentunya konflik antara kebaikan dan kejahatan. Maju terus para penulis fantasi Indonesia! Penuhi Takdirmu!
Fantasy Worlds Indonesia juga adalah blog resmi dari serial novel, komik, game dan multimedia FireHeart dan Evernade karya Andry Chang yang adalah versi Bahasa Indonesia dari NovelBlog berbahasa Inggris Everna Saga (http://fireheart-vadis.blogspot.com) dan FireHeart Saga (http://fsaga.blogspot.com)
Mitospedia India: Para Avatar - Varaha dan Narasinga
Mitospedia Veda / Vedic / Hindu AWATARA KETIGA – WARAHA AWATARA
“Kau mengatakan bahwa dirimu pembela para Ashura dan ingin membersihkan
jalan Ashura dari duri yang melukainya. Aku kau anggap duri. Bukan, Aku
bukan duri, Aku Maha Pembalas Kejahatan.” –Waraha Awatara–
Ras : Awatara Wisnu Wujud : Celeng / babi hutan Masa Kemunculan : Akhir Satya Yuga Lawan Utama : Hiranyaksa
==BRAHMA DIPANGGIL KEMBALI==
Fantasianers masih ingat dengan peristiwa di masa kemunculan Matsya
Awatara? Banjir besar menerjang bumi dan menenggelamkan seluruh daratan.
Tapi sebenarnya yang terjadi lebih parah daripada itu.
Konon
bumi terjerumus ke dalam kekacauan Mahapralaya. Pada mulanya semuanya
tenang dan damai sampai akhirnya Wisnu yang mulanya tertidur memunculkan
sebuah sulur yang menunjang sebuah bunga teratai raksasa di ujungnya.
Dari dalam bunga teratai itu muncullah Brahma.
Brahma yang
kaget dipanggil ‘mendadak’ seperti itu langsung toleh kanan-kiri dan
menyaksikan yang ada di dunia ini hanya ada kekacauan. Kekagetan
keduanya adalah : ia duduk di atas bunga teratai raksasa yang pangkalnya
tak terlihat, tak peduli seberapa jauhnya Brahma mencoba turun.
Akhirnya Brahma menyerah mencari pangkal teratai itu dan memilih untuk
melakukan tapa. Dalam tapanya ia dapat ‘pesan’ dari Wisnu yang kurang
lebih isi pesannya seperti ini :
Wisnu : “Brahma, waktunya Anda menciptakan kembali dunia dan segala isinya sekali lagi.” Brahma : “Semoga yang demikian terjadi.”
Brahma kembali bertapa. Dalam tapanya ia memunculkan sepuluh Prajapati
antara lain : Atri, Angirasa, Pulastya, Pulaha, Kratu, Bhrigu, Daksa,
Marici, Wasishta, dan Narada. Selain itu juga lahir entitas bernama
Dharma dan Adharma. Lalu ia menciptakan pasangan Manu : Swayambhu Manu
dan istrinya Satarupa. Swayambhu Manu, Prajapati, dan Brahma kemudian
mulai mengukir isi bumi sekali lagi.
Tapi setelah beberapa
lama, Brahma merasa ada yang ‘tidak beres’. Penciptaan berjalan amat
lambat sehingga Brahma memanggil kembali Swayambhu Manu dan bertanya apa
masalahnya sehingga pekerjaan Swayambhu terhambat.
Dan Sang Manu menjawab, “Saya bekerja sebagaimana Ayahanda perintahkan, tapi bumi sedang tenggelam!”
Brahma berpikir sejenak. Prajapati dan Manu jelas tidak cukup kuat
untuk mengeluarkan bumi dari lautan. Akhirnya ia memutuskan untuk minta
bantuan Wisnu sekali lagi (karena Siwa sedang tidak dapat dihubungi).
Dari lubang hidung Brahma keluarlah seekor celeng (babi hutan) sebesar
kelingking Brahma. Celeng itu langsung membesar menjadi celeng raksasa,
Waraha Awatara. Waraha kemudian mengangkat bumi dari dalam samudera dan
terus menopangnya sampai daratan-daratan bumi benar-benar stabil.
==DITI MENGGODA KASHYAPA==
Di antara para Prajapati ada seorang yang bernama Kashyapa. Kashyapa
beristrikan 13 orang putri Daksha – yang notabene adalah saudaranya
laki-lakinya. Setiap menjelang matahari terbenam, para Prajapati –
termasuk Kashyapa – biasanya melakukan pemujaan pada Brahman (dalam
wujud Trimurti), dalam hal ini Kashyapa hendak memuja Siwa.
Tiba-tiba salah satu istrinya, Diti, datang pada Kashyapa dan minta
‘dilayani di ranjang’. Kashyapa sih mau-mau saja melayani istrinya yang
satu ini, tapi ia harus melaksanakan upacara pemujaan sehingga ia
mengatakan, “Tentu Diti, tapi nanti ya. Ini waktu suci pemujaan.”
Tapi Diti tidak mau menunggu dan dalam benaknya timbul pikiran, “Idih,
suamiku sok suci banget! Seberapa kuat sih suamiku bakal bertahan?”
Diti pun mengambil inisiatif ‘ganas’ sehingga Kashyapa pun ‘takluk’.
Kesalahan besar bagi Kashyapa dan Diti! Berbuat mesum saat suaminya
hendak memuja Siwa menghantarkannya pada kutukan. Diti kemudian
mengandung dan kelak akan melahirkan dua Ashura. Yang satu bernama
Hiranyaksa dan yang satu lagi bernama Hiranyakashipu.
==HIRANYAKSA==
Ashura terkenal sekali dengan kekuatan mereka yang setara dewa dan hobi
mereka yang suka berantem. Ashura yang bisa mengontrol emosinya bisa
saja menjadi dewa, tapi Hiranyaksa tidak termasuk salah satunya. Ia
punya pemikiran seperti ini : “Untuk menjadi dewa, aku harus mengalahkan
dewa-dewa dan merebut tahta mereka.”
Jadi itulah yang dia
lakukan. Ia menghajar para dewa, minus Baruna, dan menaklukkan tiga
dunia (Patala dan Naraka – alam baka, Swargaloka – kahyangan, dan
Arcapada – dunia manusia). Sampai ia menyadari bahwa ada empat dewa
yang belum mengakui kehebatannya : Tiga Trimurti dan Baruna. Ia tidak
mengacuhkan Baruna, Siwa tidak diketahui rimbanya, Brahma adalah
kakeknya – jadi ia tidak mau melawannya, jadi satu-satunya Trimurti yang
hendak ia tantang adalah Wisnu.
Ketika ia berkeliling mencari
Wisnu, ia bertemu Baruna yang sedang dalam wujud ular raksasa dan
menantangnya berkelahi. Baruna menolak berkelahi dan menyatakan bahwa
lawannya yang sebanding dengannya adalah Wisnu. Ia menyuruh Hiranyaksa
mencari Narada guna menanyakan keberadaan Wisnu.
Narada
menunjukkan tempat Wisnu berdiam pada Hiranyaksa dengan ‘senang hati’,
“Kamu ingin berkelahi dengan Wisnu? Dia sedang mengambil wujud Waraha,
Celeng Raksasa. Dia sedang di Rasatala, sedang mengangkat bumi.”
Singkat cerita, Hiranyaksa ‘mengganggu’ Waraha yang tengah menopang
bumi. Hiranyaksa menyatakan dirinya sebagai pembela Ashura dan hendak
membersihkan jalan Ashura dari duri yang melukai mereka.
Wisnu
yang sedang tidak mood dan sedang mudah marah. langsung menggeram, “Aku
sedang menjadi binatang buas maka Aku mendengar ocehanmu. Kau mengatakan
bahwa dirimu pembela para Ashura dan ingin membersihkan jalan Ashura
dari duri yang melukainya. Aku kau anggap duri. Bukan, Aku bukan duri,
Aku Maha Pembalas Kejahatan. Sudah banyak sekali korban kejahatanmu.
Sudah berulang kali kau menggunakan kekerasan dalam memaksakan
kehendakmu. Kau telah menakut-nakuti manusia dengan menebar ancaman. Aku
tidak suka kekerasan, tetapi Aku sedang mewujud menjadi binatang buas,
mari bertarung! Saatnya kau mempertanggung-jawabkan kekerasan yang telah
kau lakukan berkali-kali.”
Jadi dua makhluk itu pun
bertarung. Saat mereka bertarung konon segala bencana terjadi di muka
bumi. Ombak dan gelombang besar menggelora di seluruh samudra, gempa
bumi di mana-mana, semua gunung meletus, dan taufan mengamuk di berbagai
tempat. Konon pertarungan ini berlangsung selama 1000 tahun sebelum
akhirnya Hiranyaksa terbunuh oleh Waraha.
==TRIVIA== • Diti
tidak pernah melahirkan anak-anak yang ‘beres’. Nyaris semua anaknya
adalah Ashura dan nasib mereka selalu berakhir dengan dibunuh oleh Wisnu
atau Dewata, kecuali anaknya yang terakhir. Berbeda sekali dengan
saudarinya Aditi yang melahirkan para dewa golongan Adhitya. •
Pertarungan Waraha dengan Hiranyaksa adalah pertarungan Wisnu yang
paling lama sebagai Awatara. Jadi boleh dikata, Hiranyaksa adalah salah
satu Ashura paling kuat. • Daksha – saudara Kashayapa – adalah ayah mertua Siwa. • Prajapati yang menikah rata-rata berpoligami
Mitospedia Veda / Vedic / Hindu AWATARA KEEMPAT – NARASINGA AWATARA
Nama lain : Narasimha, Narasingh, Narasimh Arti Nama : Separuh Manusia (Nara) Separuh Singa (Singa) Ras : Awatara Wisnu Wujud : Manusia Berkepala Singa Masa Kemunculan : Akhir Satya Yuga Lawan Utama : Hiranyakasipu
Hiranyakasipu : “Katakan di mana aku bisa temukan Wisnu! Biar kutantang Dia bertarung!” Prahlada : “Ia ada dimana-mana, Ia ada di sini, dan Ia akan muncul.”
==LEGENDA==
Fantasianers masih ingat kisah Ashura Hiranyaksa yang menantang Waraha
Awatara di pembahasan tempo hari? Kali ini Mimin akan menceritakan kisah
tentang Hiranyakasipu, saudara lelaki Hiranyaksa. Namun sebelum itu
Mimin perlu ceritakan sejenak tentang latar belakang Hinduisme di zaman
ini.
Pada zaman ini, setiap orang berhak memuja Istadewata
(Dewa Utama) –nya masing-masing. Ada yang memuja Brahma, Wisnu, Siwa,
Indra, Bayu, Baruna, atau yang lainnya. Tapi karena saudara lelakinya
dibunuh oleh Wisnu beberapa tahun yang lalu, Hiranyakasipu menjadi
sangat marah dan bersumpah tidak akan pernah memuja dewa yang namanya
Wisnu, bahkan ia bersumpah akan melenyapkan seluruh pemuja Wisnu dari
kerajaannya.
Pemaksaan kehendak paling efektif dilakukan dengan
anarki, dan anarki paling afdol dilakukan kalau dirinya memiliki
kesaktian. Maka Hiranyakasipu pun mulai bertapa dengan keras, memusatkan
perhatiannya hanya kepada Bhatara Brahma selama bertahun-tahun. Brahma
pun harus menepati hukum yang berlaku, di mana setiap makhluk yang
melakukan tapa dengan sungguh-sungguh harus dikabulkan keinginannya.
Ketika Brahma muncul, Hiranyakasipu menyatakan bahwa ia ingin diberi
kehidupan abadi, tidak bisa dibunuh oleh manusia ataupun hewan, baik
siang maupun malam, baik saat ia berada di langit maupun berpijak di
bumi, baik oleh api, air ataupun senjata, baik saat ia ada di dalam
maupun luar kediamannya. Brahma mengabulkan permohonannya.
Setelah mendapatkan kekuatan itu, ia melarang semua orang di kerajaannya
memuja dewa lain selain Siwa (dan Brahma), dan perintah itu juga hendak
ia berlakukan juga bagi istrinya : Lilawati. Bhatara Indra yang tahu
akan rencana Hiranyakasipu langsung mengevakuasi Lilawati dari istana
Hiranyakasipu. Ketika Hiranyakasipu tahu Indra dan pasukan dewanya
membawa istrinya, ia menjadi sangat marah dan kebenciannya pada Wisnu
semakin menjadi-jadi.
Ketika Bhatara Indra mengevakuasi
Lilawati, Lilawati tengah hamil tua dan beberapa waktu kemudian
melahirkan seorang putra bernama Prahlada. Lilawati dan Prahlada tinggal
dalam perlindungan Rsi Narada – brahmana pemuja Wisnu, salah satu dari
tujuh Sapta Rsi. Hiranyakasipu beberapa kali mencoba membujuk anaknya
untuk meninggalkan Wisnu tapi Prahlada tidak mau. Kesal dengan sikap
anaknya, Hiranyakasipu berkali-kali mencoba membunuh anaknya dengan
berbagai metode : dijatuhkan dari tebing, ditebas, dipukuli, sampai
dihantam dengan astra, tapi anehnya Prahlada ternyata tidak juga mati
karena ada suatu campur tangan kekuatan gaib, yang menurut Prahlada
adalah campur tangan Wisnu.
Saat ayah dan anak itu bertemu di istana Hiranyakasipu, Sang Raja Ashura menantang Prahlada. Hiranyakasipu : “Katakan di mana aku bisa temukan Wisnu! Biar kutantang dia bertarung!” Prahlada : “Ia ada dimana-mana, Ia ada di sini, dan Ia akan muncul.”
Merasa diolok-olok dengan perkataan anaknya, Hiranyakasipu memukul
salah satu pilar istananya hingga retak menjadi dua bagian. Dia langsung
mendapat kejutan. Dari pilar yang seharusnya kosong, keluarlah sesosok
manusia raksasa berkepala singa. Sosok ini memiliki empat tangan dan di
punggungnya memanggul seekor naga di punggungnya. Sosok ini disebut
Narasinga, Awatara Wisnu.
Hiranyakasipu pun maju menyerang
Narasinga. Pertarungan dua makhluk ini berlangsung sampai senja. Ketika
senja mulai turun, Narasinga mencengkeram Hiranyakasipu, mendudukkannya
di pangkuannya lalu mencabik-cabik perut Hiranyakasipu dengan kukunya.
Tindakan ini membuat berkah dari Brahma tidak berlaku karena : 1. Narasinga bukan manusia, binatang, ataupun dewa. Ia adalah perwujudan ketiganya. 2. Hiranyaksipu dibunuh bukan saat pagi, siang, atau malam melainkan senja – peralihan dari siang menuju malam. 3. Hiranyaksipu tidak dibunuh dengan senjata, air, atau api melainkan oleh kuku Narasinga.
4. Hiranyaksipu tidak dibunuh di luar ataupun di dalam kediamannya,
bukan pula di darat atau udara. Ia dibunuh di pangkuan Wisnu.
==TRIVIA==
• Naga yang dipanggul Narasinga adalah Ananta Sesa. Pada
kesempatan-kesempatan berikutnya Ananta Sesa setidaknya dua kali turut
mendampingi penjelmaan Wisnu ke dunia, yakni sebagai Laksmana – saudara
Rama – dan Baladewa – saudara Kresna. • Narasinga adalah awatara
Wisnu paling buas dan ‘brangasan’. Dalam satu versi diceritakan :
setelah membunuh Hiranyakasipu, ia lepas kontrol dan membunuh lebih
banyak orang lagi. Aksi Narasinga baru berhenti setelah Siwa turun ke
dunia dan bertempur melawan Narasinga.
Damar Wulan
-
*Damar Wulan and the Gada Wesi Kuning: A Javanese Legend of Heroism, Love,
and Destiny*
Edisi Indonesia: Damar Wulan dan Gada Wesi Kuning*Folklore from Ea...
Vice: Project Doom (NES) Playthrough
-
For more in BJ Vadis' World, visit http://vadisworld.blogspot.com and
http://vadis.multiply.com. Thankx very much!
SAYEMBARA NOVELA BASABASI 2022: KATASTROFE
-
Ketentuan umum: Naskah belum pernah dipublikasikan dalam bentuk apa pun;
Naskah tidak sedang diikutkan dalam lomba lain; Naskah merupakan […]
Extra Adventure IV: Senandung
-
Raymond Thorn mengira dirinya sudah gila ketika mendengar sayup-sayup suara
senandung merdu yang bergema di dalam helm *powersuit* yang dia kenakan.
Praj...
Chrysant 3 – Disewakan lantai 15
-
2 kamar tidur 2 ac kitchen set 1 ranjang besar tv lcd sofa lemari baju
kamar anak masih kosong Rp2.500.000,-/ bulan (minimal sewa 3 bulan) Rp
22.000.000,-/...
-
EVERNA Monstropedia Espers (Deities) from Quezal Update: Oct 19, 2015
Source from Wikipedia:
https://en.m.wikipedia.org/wiki/Legendary_creatures_of_the_Arg...
Recipe of the Day: Pasta and Corned Beef Casserole
-
I am a lazy mom. I don't like to spend hours in the kitchen. When my kids
demand food, I usually try to make the easiest dishes.
This one probably takes ...
Stiker Termos Berlian~~
-
Originally posted on Die Nachtjäger:
LINE. Apps chat gratisan yang saya demen, terlepas kadang keki sama
beratnya. Kenapa? KARENA STAMP/STIKERNYA LUCU-LUCU!...
Sayap-sayap dua warna. Kembali ke awal.
-
Goresan keduabelas
(Jalan menuju Neraka)
Minggu, 09 Oktober 2011
Di angkasa yang mulai dipenuhi awan bergemuruh malam itu, dua sosok dengan
satu sayap me...
Kota Bersahabat
-
Saya baru saja kembali dari perjalanan ke Yogyakarta dan Magelang. Sudah
lama saya tidak ke daerah Jawa Tengah Jawa Timur sana, sehingga tidak
menyadari be...
TANRIL "Sempet" Masuk Nominasi Khatulistiwa Award
-
Khatulistiwa Literary Award telah merilis daftar panjang (10 besar) karya
yang sedang dijaring untuk dipilih masing-masing satu pemenang. Seperti
sebelum...
The book of Names
-
The Book of Names
[image: Photobucket]
Sampul
Sampul dari buku ini bisa dibilang cukup menarik. Judul yang tertulis
besar-besar di bagian tengah terlihat s...
Gambang Djakarte: Firman Muntaco
-
Firman Muntaco, sebuah nama yang melegenda di masyarakat betawi. Namun nama
yang sekarang seakan tenggelam di kelamnya dunia sastra Indonesia. Dunia
sastra...
Si Jago Merah (resensi)
-
Sekarang saatnya satu lagi film Indonesia yang akan kena resensi..hehehe....
Pertama saat ngeliat tampilan gambar di bioskop-bioskop, jujur gue langsung
be...
Chapter 1 - A Day of Peace
-
Di negeri Elensia, selalu ada kedamaian. Setiap pagi, burung berkicau dan
ayam berkokok. Semua senang, tidak terkecuali Elfriad, penjaga perbatasan
daerah ...
Bab I : Penciptaan Langit dan Bumi
-
Adalah dua Kekuatan besar yang muncul dari dalam Ketiadaan. Terang dan
Gelap bersatu tanpa bercampur menciptakan Langit yang hampa dan Bumi yang
padat. Be...
No comments:
Post a Comment