Bersiaplah untuk menjelajahi dunia ciptaan imajinasi dari para pencipta dunia dari Indonesia. Dunia-dunia penuh petualangan, keajaiban dan tentunya konflik antara kebaikan dan kejahatan. Maju terus para penulis fantasi Indonesia! Penuhi Takdirmu!
Fantasy Worlds Indonesia juga adalah blog resmi dari serial novel, komik, game dan multimedia FireHeart dan Evernade karya Andry Chang yang adalah versi Bahasa Indonesia dari NovelBlog berbahasa Inggris Everna Saga (http://fireheart-vadis.blogspot.com) dan FireHeart Saga (http://fsaga.blogspot.com)
Mitospedia - Mistipedia Nusantara HUDOQ – ROH-ROH YANG MENJELMA Nama asli : Jeliwan Tok Hudoq Daerah Asal : Kalimantan Timur (Kutai) Dipercayai oleh : Suku Dayak Bahau dan Modang Arti Nama : Menjelma
==SEKILAS PANDANG==
Di kalangan masyarakat Dayak Bahau dan Modang ada kepercayaan mengenai
sekelompok makhluk bernama Hudoq. Mereka adalah para abdi Asung Luhung
(Ibu Besar) – entitas adikodrati yang menurunkan manusia-manusia di muka
bumi, tepatnya di kawasan hulu Sungai Mahakam Apo Kayan. Sama seperti
kepercayaan tradisional lainnya, baik dan buruk tidak dianggap sebagai
dua kutub yang berlawanan, melainkan dua hal yang bersisian. Hudoq
terdiri dari tiga kalangan yakni hudoq hama, hudoq elang, dan hudoq
punan (manusia). Hudoq hama adalah hudoq yang membawa hama kepada
tanaman-tanaman padi, hudoq elang dianggap sebagai hudoq yang melindungi
manusia, dan hudoq punan adalah manifestasi roh leluhur yang telah
berpulang. Hudoq hama berjumlah 11 orang, hudoq elang satu orang, dan
hudoq punan dua orang.
Versi lain mengatakan bahwa para seluruh
hudoq adalah roh baik. Namun karena wajah mereka mengerikan, mereka
mendatangani manusia dengan mengenakan baju samaran setengah manusia dan
setengah burung. Saat mereka tiba di perkampungan mereka berdialog
dengan para manusia, memberikan benih tanaman pangan dan tanaman obat
serta mengajari manusia aneka kegunaan dari tanaman-tanaman itu. Dalam
versi ini, 13 Hudoq adalah manifestasi dari 13 Hunyang Tenangan – dewa
pemelihara tanaman padi.
Nama hudoq sendiri artinya menjelma,
dinamakan begitu karena roh-roh ini mengambil rupa lain (setengah burung
setengah manusia) saat berhadapan dengan manusia.
==TARIAN HUDOQ==
Kisah tentang hudoq saat ini lazim ditampilkan melalui tarian. Para
penari akan mengenakan topeng yang juga disebut hudoq. Topeng hudoq ini
digambarkan menyerupai muka babi, monyet, atau binatang-binatang lain
yang dianggap sebagai hama (berjumlah 11 binatang). Ada juga hudoq
burung elang yang merupakan lambang binatang pelindung dan pemelihara
hasil panen masyarakat. Selain itu ada juga topeng hudoq yang berwujud
manusia sebagai simbol nenek moyang.
Tarian hudoq pada
masyarakat Dayak biasanya ditampilkan ketika hendak membuka lahan
pertanian. Tarian ini merupakan salah satu tahapan dalam tradisi
masyarakat Dayak yang disebut ‘laliq ugal’. Tarian ini akan
dipertunjukkan ketika kepala suku telah menetapkan akan membuka lahan
dan selesainya acara persembahan delapan buah telur kepada leluhur.
Selain mengenakan topeng yang merepresentasikan karakter penghancur,
pelindung, dan karakter leluhur, penari hudoq juga mengenakan baju yang
umumnya berwarna hijau. Baju ini dibuat seperti dedaunan yang menempel
di badan penari. Baju hijau ini memang menyimbolkan dedaunan yang akan
terus menghijau selama kepala suku membuka lahan garapan.
Tarian ini adalah bagian dari upacara. Upacara dimulai ketika seorang
Pawang, pemimpin upacara, mulai mengumumkan tujuan upacara, diikuti
permohonan agar para roh memasuki para penari. Sesaji dipersiapkan,
sementara pawang bememang (mengucapkan) mantra dihadapan para penari
Hudoq yang telah berbusana lengkap. Sebelas penari duduk berbaris di
tengah arena. Pawang menaburkan beras kuning ke kepala para penari
sebagai tanda upacara dimulai. Satu demi satu para penari berdiri dan
berjalan pelan sesuai dengan tempo musik. Adapun musik pengiringnya
adalah berupa gong dan tubun – sebuah gendang kecil yang dapat
digenggam, dilapisi besisi (kulit kadal) pada salah satu sisinya dan
diikat kuat dengan rotan. Kemudian para penari bergerak ke dalam
lingkaran, tangan melambai, badan berayun, kaki menghentak, kemudian
kembali ke tengah lingkaran dimana para roh akan merasuk, setelah itu
mereka kembali menari. Saat itu pawang menyampaikan pesan kepada roh
yang menguasai penari dengan mengucapkan mantra lagi, yakni mantra suci
yang panjang. Maksud dari mantra tersebut adalah untuk meminta pada
roh-roh agar menjaga tanaman mereka, menjauhkan hama yang membahayakan,
dan melindungi penduduk desa.
Selanjutnya pawang mendekati para penari
dan menghimbau para roh agar kembali ke asal masing-masing baik di
hutan, gunung, empat penjuru angin, gua, atau tempat yang lain. Para
penari kembali ke tengah arena dan disadarkan kembali oleh para pawang.
Setelah melepas topeng dan busana, mereka bergabung dengan para
penonton. Upacara pun berakhir. Namun, ada juga tata cara lain
pelaksanaan upacara ini yang tidak seperti tertulis di atas. Adapun
upacara tersebut akan benar-benar selesai ketika dua penari bertopeng
manusia (hudoq punan) tiba-tiba muncul dan memburu kesebelas penari ke
luar desa, diikuti para hadirin. Upacara ini berlangsung selama satu
sampai lima jam.
Damar Wulan
-
*Damar Wulan and the Gada Wesi Kuning: A Javanese Legend of Heroism, Love,
and Destiny*
Edisi Indonesia: Damar Wulan dan Gada Wesi Kuning*Folklore from Ea...
Vice: Project Doom (NES) Playthrough
-
For more in BJ Vadis' World, visit http://vadisworld.blogspot.com and
http://vadis.multiply.com. Thankx very much!
SAYEMBARA NOVELA BASABASI 2022: KATASTROFE
-
Ketentuan umum: Naskah belum pernah dipublikasikan dalam bentuk apa pun;
Naskah tidak sedang diikutkan dalam lomba lain; Naskah merupakan […]
Extra Adventure IV: Senandung
-
Raymond Thorn mengira dirinya sudah gila ketika mendengar sayup-sayup suara
senandung merdu yang bergema di dalam helm *powersuit* yang dia kenakan.
Praj...
Chrysant 3 – Disewakan lantai 15
-
2 kamar tidur 2 ac kitchen set 1 ranjang besar tv lcd sofa lemari baju
kamar anak masih kosong Rp2.500.000,-/ bulan (minimal sewa 3 bulan) Rp
22.000.000,-/...
-
EVERNA Monstropedia Espers (Deities) from Quezal Update: Oct 19, 2015
Source from Wikipedia:
https://en.m.wikipedia.org/wiki/Legendary_creatures_of_the_Arg...
Recipe of the Day: Pasta and Corned Beef Casserole
-
I am a lazy mom. I don't like to spend hours in the kitchen. When my kids
demand food, I usually try to make the easiest dishes.
This one probably takes ...
Stiker Termos Berlian~~
-
Originally posted on Die Nachtjäger:
LINE. Apps chat gratisan yang saya demen, terlepas kadang keki sama
beratnya. Kenapa? KARENA STAMP/STIKERNYA LUCU-LUCU!...
Sayap-sayap dua warna. Kembali ke awal.
-
Goresan keduabelas
(Jalan menuju Neraka)
Minggu, 09 Oktober 2011
Di angkasa yang mulai dipenuhi awan bergemuruh malam itu, dua sosok dengan
satu sayap me...
Kota Bersahabat
-
Saya baru saja kembali dari perjalanan ke Yogyakarta dan Magelang. Sudah
lama saya tidak ke daerah Jawa Tengah Jawa Timur sana, sehingga tidak
menyadari be...
TANRIL "Sempet" Masuk Nominasi Khatulistiwa Award
-
Khatulistiwa Literary Award telah merilis daftar panjang (10 besar) karya
yang sedang dijaring untuk dipilih masing-masing satu pemenang. Seperti
sebelum...
The book of Names
-
The Book of Names
[image: Photobucket]
Sampul
Sampul dari buku ini bisa dibilang cukup menarik. Judul yang tertulis
besar-besar di bagian tengah terlihat s...
Gambang Djakarte: Firman Muntaco
-
Firman Muntaco, sebuah nama yang melegenda di masyarakat betawi. Namun nama
yang sekarang seakan tenggelam di kelamnya dunia sastra Indonesia. Dunia
sastra...
Si Jago Merah (resensi)
-
Sekarang saatnya satu lagi film Indonesia yang akan kena resensi..hehehe....
Pertama saat ngeliat tampilan gambar di bioskop-bioskop, jujur gue langsung
be...
Chapter 1 - A Day of Peace
-
Di negeri Elensia, selalu ada kedamaian. Setiap pagi, burung berkicau dan
ayam berkokok. Semua senang, tidak terkecuali Elfriad, penjaga perbatasan
daerah ...
Bab I : Penciptaan Langit dan Bumi
-
Adalah dua Kekuatan besar yang muncul dari dalam Ketiadaan. Terang dan
Gelap bersatu tanpa bercampur menciptakan Langit yang hampa dan Bumi yang
padat. Be...
No comments:
Post a Comment