Selamat Datang, Para Penjelajah!

Bersiaplah untuk menjelajahi dunia ciptaan imajinasi dari para pencipta dunia dari Indonesia. Dunia-dunia penuh petualangan, keajaiban dan tentunya konflik antara kebaikan dan kejahatan. Maju terus para penulis fantasi Indonesia! Penuhi Takdirmu!

Fantasy Worlds Indonesia juga adalah blog resmi dari serial novel, komik, game dan multimedia FireHeart dan Evernade karya Andry Chang yang adalah versi Bahasa Indonesia dari NovelBlog berbahasa Inggris Everna Saga (http://fireheart-vadis.blogspot.com) dan FireHeart Saga (http://fsaga.blogspot.com)

Rubrik Utama Fantasindo

06 January 2009

Halloween - The Child's Killing pg 8-10

Tahun ketiga, 31 Oktober

Sejak pagi, Raine terus merasa gelisah. Felix telah memperingatkan dirinya, akan pesan dengan tulisan seperti anak kecil, yang berbunyi : ‘Jadi besok waktunya jalan-jalan sama kakak, yang jadi bintang idola di sekolahnya.

Karena itulah di setiap jalan yang dilewatinya, ia selalu waspada. Tetapi ia menolak Felix yang telah mengajukan diri untuk mengantarnya.

“Terima kasih, tapi maaf, aku tidak ingin merepotkan Anda lebih daripada ini. Selain itu, setiap kejadian pembunuhan itu, terjadi pada malam hari khan ? Jadi Anda tidak perlu khawatir.”

Raine berhenti sejenak, mendongak ke langit, lalu menghela nafas panjang.

Aku bisa saja berkata demikian, tapi sejujurnya.. aku merasa sangat ketakutan...

Baru saja Raine hendak melanjutkan perjalanannya dengan sepedanya, ketika secara tidak sengaja ia menengok ke arah sebuah toko. Kaca etalase toko itu memantulkan bayangan dirinya, dan Raine-pun terpekik; Seketika itu pula, mimpi yang tak pernah dapat diingatnya itu muncul lagi dalam benaknya, bagai sebuah film lama yang diputar ulang. Wajah Raine langsung menjadi pucat, sementara sorot matanya memancarkan rasa takut yang teramat sangat.

“Ti.. tidak, i.. itu.. tidak mungkin terjadi !”, jeritnya berulang-ulang.

Orang-orang di sekitarnya segera mendatanginya, dan menanyakan ada apa, tapi Raine terus mengulang kata-katanya, dengan pandangan terus terarah ke kaca etalase toko itu. Semua yang melihat kaca tersebut, hanya melihat pantulan diri Raine yang sedang dikelilingi orang banyak. Akhirnya Raine berhasil menenangkan dirinya sendiri, lalu tanpa berkata apapun, melanjutkan perjalanannya menuju sekolah. Orang-orang yang tadi mengerumuninya, hanya memandangnya dengan bingung dari belakang.

Sesampainya di sekolah, ketika sedang menaruh sepedanya, untuk kedua kalinya Raine mendengar suara anak kecil itu, “Kakak...

Raine langsung menengok ke arah datangnya suara dengan kesal, lalu berkata, “Aku bukan kakak-mu, dan aku nggak takut padamu ! Aku takkan mati terbunuh olehmu, karena aku beda dengan kedua korbanmu sebelumnya.”

Baru saja Raine selesai berkata demikian, ketika tiba-tiba terdengar gemerisik sesemakan yang bergoyang akibat ada orang yang lewat. Tanpa ragu lagi, Raine langsung menerkam apapun yang ada di sesemakan tersebut.

“Gwah, tu.. tunggu, Raine ! I.. ini aku.”

Raine melihat ke orang yang diterkamnya.

“Alex ?”, seketika itu pula, Raine langsung menarik lengannya, “Ke.. kenapa kamu ada di sini ?”

“Aku cuma kebetulan ambil jalan pintas, lalu mendengar suaramu. Sepertinya kamu sedang marah terhadap seseorang, jadi aku ingin melihatnya.”

“Kalau begitu, apa kamu lihat seseorang, mungkin seorang anak kecil, berada di sekitar sini ?”

“Nggak. Makanya aku bingung, kamu lagi marah-marah sama siapa ?”

Raine menghela nafas kecewa.

Sementara Alex berkata, “Aku sih senang-senang aja kita seperti ‘ini’, tapi kurasa lebih baik kalau kamu berdiri deh.”

Raine baru menyadari, bahwa saat ini ia sedang dalam posisi duduk di atas kaki Alex. Wajahnya langsung memerah, dan dengan segera ia bangkit.

“Ma.. maaf, a..ku.. nggak sengaja. Tadi aku menyerangmu, karena kupikir kamu orang lain.”

Alex memandang Raine dengan serius.

“Maksudmu, kamu merasa ada penguntit yang suka mengikutimu ? Wah, bahaya juga tuh. Kamu harus melaporkannya ke polisi.”

Belum sempat Raine menjawab, ketika tiba-tiba bel sekolah berbunyi. Keduanya segera berlari menuju sekolah.

Ketika pulang sekolah, tampak Felix telah berdiri di gerbang sekolah. Mylene langsung mohon diri kepada Raine.

“Kalian bakal pulang bareng lagi khan ? Aku nggak akan ganggu deh.”

Raine hanya tersenyum, memandang punggung Mylene dari belakang. Ketika sampai di gerbang, Felix bertanya, “Teman dekat Anda itu, kenapa nggak ikut bareng aja ?”

“Katanya dia nggak mau ganggu, jadi dia pergi duluan.”

Felix lalu menengok ke arah Raine.

“Nona Raine, sebenarnya apa alasan Anda tadi pagi, tidak bersedia saya jemput ?”

“Saya cuma nggak ingin merepotkan petugas Felix kok, itu saja. Selain itu, bukankah semua kejadian itu terjadi pada malam hari ? Jadi pagi dan siang, berarti saya aman khan ?”

Walau sekilas, tapi perasaan kecewa tampak di wajah Felix. Raine menyadari itu, bertanya-tanya dalam hati.

“Baiklah kalau gitu. Ah ya, sekarang Anda mau kemana ? Apa langsung pulang, atau hendak pergi ke suatu tempat terlebih dahulu ?”

Dengan tersenyum pahit, Raine menjawab, “Kayaknya aku mau langsung pulang aja, mengingat tulisan itu yang menyinggung masalah ‘jalan-jalan’.”

Felix mengangguk, lalu keduanya masuk ke dalam mobil.

Dalam perjalanan, beberapa kali Raine melirik ke arah Felix dengan diam-diam. Dan ketika pandangan mata mereka beradu, Felix merasa bingung.

“Ada apa, Nona Raine ?”

“A.. ah, nggak kok. Aku cuma sedikit teringat akan kata-kata Mye.”

“Teman dekat Anda itu ? Memangnya Nona Mylene bilang apa ?”

“Jangan tertawa ya. Menurut Mye, Anda ganteng, dan dia agak merasa iri, karena aku punya saudara laki-laki yang ganteng.”

Felix-pun tersenyum. Sementara, tanpa disadari Felix, Raine menarik nafas lega.

Mimpi itu, apakah itu menjadi suatu pertanda ?

Tapi.. aku nggak mungkin menceritakannya pada petugas Felix khan ?

Ya, aku nggak mungkin mengatakan bermimpi kalau ia membunuhku...

No comments:

Berita Antar Dunia

Pusat Berita Dunia-Dunia