Selamat Datang, Para Penjelajah!

Bersiaplah untuk menjelajahi dunia ciptaan imajinasi dari para pencipta dunia dari Indonesia. Dunia-dunia penuh petualangan, keajaiban dan tentunya konflik antara kebaikan dan kejahatan. Maju terus para penulis fantasi Indonesia! Penuhi Takdirmu!

Fantasy Worlds Indonesia juga adalah blog resmi dari serial novel, komik, game dan multimedia FireHeart dan Evernade karya Andry Chang yang adalah versi Bahasa Indonesia dari NovelBlog berbahasa Inggris Everna Saga (http://fireheart-vadis.blogspot.com) dan FireHeart Saga (http://fsaga.blogspot.com)

Rubrik Utama Fantasindo

05 February 2016

[Mitospedia Sumeria] Gilgamesh dan Petualangan Keabadian


[Legenda/Mitos] [Sumeria] Gilgamesh dan Petualangan Keabadian

By Cypress Ruby in Penggemar Novel Fantasi Indonesia Facebook

Origin:

Siklus legenda epik Gilgamesh berasal dari Sumeria, di daerah Tigris/Euphrates bagian Timur Tengah, yang sekarang dikenal sebagai Irak. Tokoh pahlawan ini dikabarkan tinggal di Uruk sekitar tahun 5000 SM, yakni pada puncak peradaban Sumeria.

Gilgamesh digambarkan sebagai Raja Uruk, salah satu kota terbesar selain Ur dan Kish. Tablet awal mencatat pertarungannya melawan Raja Angga dari Kish, yang menunjukkan bahwa Gilgamesh adalah tokoh sejarah. Tablet-tablet yang muncul kemudian membesar-besarkan kekuatannya dan mengadakan sejumlah perayaan untuknya sebagai pahlawan mistis yang memiliki darah suci keturunan dewa. Dikatakan kemudian bahwa ia dilahirkan dari Dewi Ninsun dan ayah manusia Raja Lugalbanda dari Uruk. Catatan awal kehidupannya ditulis dalam bahasa Sumeria, tapi kemudian orang-orang Semit yang mendiami daerah itu akhirnya mengambil kisah itu dan menulisnya dalam bahasa Akkadia.

Fragmen-fragmen dari era Babilonia yang lebih tua daripada Assyria dan memiliki hubungan dagang dengan Hittite (yang sekarang dikenal sebagai Turki) dan Hurrian (yang sekarang dikenal sebagai Armenia), kemudian mengambil cerita tersebut ke ranah yang lebih luas lagi. Fragmen-fragmen ditemukan oleh arkeologis di arsip Boghazkoy, di kota kuno Hittite, dan di Megido, tapi yang kita miliki sekarang kebanyakan ditemukan di reruntuhan Perpustakaan Besar Nineveh yang dijarah pada tahun 612 SM.
Suku Elamite Kuno dikatakan menggunakan kisah Gilgamesh sebagai pertunjukan drama panggung.

Ada pula kisah dramatis versi Inggris ditulis oleh Robert Temple, penulis syair/pantun indah yang berjudul He Who Saw Everything.


Ceritanya:

Gilgamesh, Raja Agung dari Uruk, dan temannya yang tak terpisahkan, Enkidu, kembali setelah menaklukkan penjaga hutan Cedar (cemara) raksasa, Humbaba. Melihat pria muda itu berkendara di jalanan, dengan ototnya yang mengencang dan rambut keritingnya dijalin emas, Dewi Cinta, Ishtar, menginginkan dirinya dan memanggil Gilgamesh ke hadiratnya.

Gilgamesh berdiri dihadapan Ishtar dengan bangga - sadar akan aroma 10,000 bunga, sekaligus terpesona akan kulit dewi yang bercahaya, dan perhiasan yang dililit tali panjang melingkari tubuhnya.

"Gilgamesh," panggilnya lembut, "mendekatlah. Aku menawarkan padamu harta karun terbesar yang diidamkan setiap pria."

"Apakah itu, Ladyku?" sang pahlawan bertanya hati-hati, sambil tetap menjaga jarak. Ishtar tersenyum penuh sayang dan mengulurkan tangannya yang ramping, setiap jarinya dilingkari permata berbeda.

"Kau akan menjadi kekasihku," bisiknya lembut. "Mendekatlah, manusia, dan ciciplah kenikmatan terbesar dari yang pernah engkau rasakan."

Gilgamesh tetap bertahan.

"Kemarilah!" ia mengulangi, kali ini dengan agak tidak sabar.

"Dewi agung," kata Gilgamesih, "aku adalah Raja, dan sudah mendapatkan harta terbesar yang diidamkan oleh setiap pria."

Mata sang dewi menyipit.

"Maafkan aku, dewi, tapi semua yang pernah menjadi kekasihmu telah tiada. Berbaring bersamamu berarti berbaring bersama kematian."

"Kalau begitu pergilah, Gilgamesh, dan rasakan racun dari kutukanku!" matanya melotot. Bibirnya merapat. Tubuhnya yang menggairahkan tampak mengeras dan bertambah tinggi dan tajam. Ia menjulang di atas Gilgamesh dan langit menggelap di belakangnya.

Gilgamesh mundur.

Kemudian Ishtar mendatangi ayahnya, Anu, sang dewa langit, dan menuntut pembalasan atas penghinaan yang Gilgamesh berikan padanya. Pada awalnya sang ayah menolak dengan mengatakan Gilgamesh adalah pahlawan hebat dan masih banyak yang bisa dilakukannya untuk para dewa.

Tapi Ishtar semakin lantang menyuarakan tuntutannya dan menyatakan kalau ia akan membuka 7 gerbang yang berada di antara Dunia Atas dan Dunia Bawah sehingga para orang mati akan lepas dan mengganggu manusia.

"Berikan padaku Banteng Surgawi (Bull of Heaven), ayah, untuk menginjak-injak kerajaannya, atau para orang mati akan melebihi jumlah orang yang hidup di bumi milikmu ini!"

Anu menghela nafas, dan memberinya Banteng Surgawi.

Dengan penuh kemenangan, Ishtar melepas Banteng Surgawi di Uruk, kota Gilgamesh.

Banteng itu meraung dan mengamuk di jalanan kota, tapi Gilgamesh mendengarnya dan ia beserta Enkidu mendatanginya.

"Olahraga yang hebat, teman!" ujar Gilgamesh dengan mata bersinar.

"Benar-benar olahraga yang hebat," balas Enkidu, dan bersama-sama mereka bergulat dengan Banteng itu dan menjegalnya ke tanah. Kemudian dengan tangan kosongnya, Gilgamesh merobek Banteng itu dan mempersembahkan jantungnya kepada Shamash, Dewa Matahari. Ia memajang tanduk Banteng Surgawi di dinding kamar tidurnya, menertawakan usaha balas dendam Ishtar yang tak berarti.

Kepada rakyatnya ia menyombong:

Siapakah yang paling istimewa di antara pahlawan?
Siapakah yang paling berjaya di antara pria?
Gilgameshlah yang paling istimewa di antara pahlawan!
Gilgameshlah yang paling berjaya di antara pria!
Dengan murka Ishtar mendatangi majelis para dewa, meyakinkan mereka akhirnya bahwa Gilgamesh dan Enkidu telah terlalu sering melangkahi batas kesombongan manusia.

"Salah satu dari mereka harus mati," mereka menyetujui, "dan yang lainnya harus menderita atasnya".

Suatu malam Enkidu bermimpi bahwa ia akan mati.

"Ketika aku berdiri di sana di antara surga dan bumi," Enkidu memberitahu Gilgamesh, "Aku melihat seorang pria muda berwajah gelap..." ia gemetar. "Ia mengubahku dengan sihirnya menjadi kembarannya.... dan aku melihat tanganku adalah sayap seperti burung."

Gilgamesh berusaha menenangkan sahabatnya tapi Enkidu menolak ditenangkan.

Sejak saat itu, Enkidu menjadi semakin lemah setiap harinya hingga akhirnya ia jatuh sakit sampai tidak bisa bangun lagi. Meskipun dengan kekuasaan yang ia miliki sebagai Raja sebuah negeri besar, Gilgamesh tidak bisa berbuat apapun untuk menyelamatkan hidup sahabatnya.

Enkidu meninggal.

Gilgamesh menangis.

Tidur macam apakah ini yang telah mendatangimu?
Kau telah jatuh dalam kegelapan hingga tidak bisa mendengarku!
Selama 7 hari Gilgamesh berjaga di samping ranjang Enkidu, tidak mampu menerima kenyataan kalau sahabatnya tidak akan kembali. Bahwa Enkidu tidak akan pernah kembali!

Akhirnya ia melepas harapannya dan menjauhi keputus-asaan.

Ia meninggalkan istananya, ia meninggalkan kotanya, dan ia mengembara dalam hutan belantara hidup seperti binatang, mencabut umbi-umbian dan memetik buah beri untuk dimakan. Ia merobek pakaian mewahnya dan mengenakan kulit-kulit binatang. Ia tidak hanya hancur oleh kehilangan seorang rekan, tapi ia juga terkejut oleh kekuatan kematian. Ia menyadari bahwa ia pun, akan berbaring dingin dan gelap suatu hari nanti, dan tidak akan bisa lagi memiliki akses pada kecermelangan dunia. Ia mencerca para dewa yang memberi manusia kutukan ini dan memutuskan bahwa ia akan mencari cara untuk hidup selamanya. Kekayaan yang ia miliki sebagai Raja akan sia-sia jika ia tidak hidup abadi.

Ia teringat sebuah cerita tentang seorang pria bernama Ziusudra yang, pada masa dulu, selamat dari bencana banjir yang memusnahkan umat manusia dan telah diberi berkat keabadian oleh para dewa. Ia memutuskan untuk mencarinya.

Untuk waktu yang lama ia mengembara menyebrangi hutan belantara hingga akhirnya tiba di Pegunungan Manshu, yang harus ia lewati jika ingin mencapai Dunia Bawah. Jalannya dihalangi penjaga gunung yang mengerikan, separuh kalajengking raksasa dan separuh pria dan wanita.

"Tidak ada manusia yang melewati gunung ini dan tetap hidup," kata makhluk kalajengking itu dan mengangkat sengatnya.

Tapi Gilgamesh berdiri tegak. Menceritakan kisah kepahlawannya serta kesedihan dan keputus-asaannya.

"Jika kau mampu menghadapi kegelapan gunung," kata sang penjaga, "adalah Shamash, sang dewa matahari sendiri, yang akan memutuskan nasibmu di ujung lain."

Makhluk kalajengking itu menggelindingkan kembali gerbang menuju gunung, dan bebatuan pun bergemuruh dan mengerang di bawahnya.

Gilgamesh berjalan menuju kegelapan dalam gunung, berkelana melewati jalur yang dilalui matahari ketika tidak bersinar di atas bumi.

Jam demi jam ia berjalan dalam kegelapan yang semakin tebal dari yang pernah ia alami sebelumnya. Jam demi jam, semangatnya menurun, keputus-asaannya semakin terasa berat. Kemudian, pada jam kesembilan, ia merasakan sedikit kesejukan dan mempercepat langkahnya. Setelah jam keduabelas, ia berjalan menuju cahaya terang mentari pagi di sisi lain pegunungan.

Ia menemukan dirinya di kebun permata. Daun-daun, bunga-bunga, buah bersinar dalam cahaya pagi semuanya terbuat dari permata paling berharga. Ia memandang penuh takjub, hampir lupa pada misi pencariannya.

Tapi ia ingat juga pada akhirnya dan melanjutkan perjalanannya.

Suatu waktu, ia mendatangi sebuah kedai dimana penjaganya adalah seorang wanita manusia bernama Siduri yang bertugas menyediakan minuman berhalusinogen dan menenangkan kepada mereka yang hendak pergi ke Dunia Bawah. Gilgamesh tampak sangat liar dan putus-asa, dan pakaiannya tampak lusuh dan kotor, sehingga Siduri memalang pintu kedainya untuk menghalangi Gilgamesh masuk.

Gilgamesh menggedor pintunya, mengumumkan namanya dan daftar perbuatan-perbuatan baik yang telah ia lakukan.

“Jika kau adalah Gilgamesh, Raja Agung dari Uruk,” Siduri berkata ragu-ragu, “mengapa pipimu begitu cekung, wajahmu begitu merana, kamu memiliki tampang seolah datang dari jauh.”

Gilgamesh menceritakan kematian Enkidu dan bagaimana dirinya mengembara di hutan sejak itu, hidup bak binatang. Ia juga memberitahu Siduri siapa orang yang ingin ditemuinya dan alasannya.

Siduri membukakan pintu untuknya.

“Jalannya terletak di seberang Air Kematian,” kata Siduri. “tidak ada orang yang menyebranginya dan kembali hidup-hidup. Mengapa kau menghabiskan waktu mencemaskan kematian? Bersenang-senanglah siang dan malam selagi masih hidup. Setiap hari sebaiknya dirayakan dengan gembira. Biarlah pakaianmu bersinar dan segar, rambutmu dicuci bersih, tubuhmu dimandikan dengan wewangian. Nikmatilah pegangan tangan si kecil, dan istrimu yang berbaring di ranjangmu.”          

Tapi Gilgamesih tidak mau mendengarkannya dan membujuknya untuk membiarkannya menyebrangi lapisan luas air yang memisahkan dua dunia – Air Kematian.

Siduri memberitahu bahwa satu-satunya cara untuk melakukannya adalah dengan bantuan sang tukang perahu, Urshanabi, yang telah membantu Ziusudra menyebrang berabad-abad yang lalu.

Atas sarannya, Gilgamesh mencari Urshanabi di hutan, kilatan kapak sang tukang perahu menarik perhatiannya.

Sekali lagi ia ditanya.

“Mengapa kau mengembara di hutan belantara seperti mengejar embusan angin?”

Urshanabi mendengarkan prestasi-prestasi hebat yang telah dilakukan Enkidu dan Gilgamesh, dan menganggukkan kepalanya ketika mendengar kesedihan Gilgamesh atas kematian Enkidu.

“Aku percaya kalau Ziusudra, yang diberkati keabadian oleh para dewa, bisa membantuku,” kata Gilgamesh, “dan Siduri memberitahuku kalau kau adalah orang yang dapat mengantarku padanya.”

Urshanabi mempertimbangkannya.

“Pergilah ke hutan,” katanya, “potong dan bentuklah 120 galah-perahu. Setelah selesai bawalah ke tempat perahuku di tambatkan.”

Gilgamesh menggunakan kapak Urshanabi dan membentuk 120 galah-perahu, dan bersama-sama mereka mengarungi Air Kematian. Urshanabi mengingatkan Gilgamesh untuk tidak sekalipun membiarkan bagian manapun tubuhnya menyentuh air.

“Ketika satu galah menyentuh air, kau harus membuang galahnya dan gunakan galah-perahu yang baru.”

Galah-perahu habis dipakai sebelum mereka tiba di seberang, tapi Gilgamesh menggunakan cawatnya sebagai layar untuk melanjutkan perjalanan.

Ziusudra, yang tinggal di persimpangan 3 sungai, memandang ke arah Air kematian dan melihat perahu berlayar aneh. Ia bertanya-tanya kenapa perahunya tidak memiliki tuan yang sama di kemudi.

Ketika Gilgamesh berlabuh, ia tidak menyia-nyiakan waktu untuk menceritakan kisahnya dan bagaimana ia menginginkan hidup abadi. Ziusudra, seperti semua orang yang telah bertemu Gilgamesh dalam perjalanan ini, mengingatkannya bahwa manusia tidak lebih dari sebuah alang-alang rapuh dan tidak bisa berharap kekekalan. Tidak ada yang kekal di bumi:

Seekor capung muncul dan terbang.
Tapi wajahnya menghadap matahari hanya untuk sehari.
“Jika demikian,” Tanya Gilgamesh pada Ziusudra, “bagaimana caranya dirimu, yang manusia seperti diriku, dapat memasuki Majelis para dewa dan mendapatkan hidup yang abadi?”

Ziusudra memberitahu Gilgamesh mengenai banjir besar pada masa lalu yang menghancurkan umat manusia. Ia telah diperingatkan sebelumnya untuk membangun perahu dan membawa serta “semua benih-benih kehidupan.”

Ia membangunnya dalam 7 hari sesuai yang diperintahkan, dalam bentuk kubus dan menyegelnya dalam badai yang mengamuk selama 6 hari dan 7 malam.

Pada pagi hari ketujuh, ia memandang keluar dan menyadari kalau badai telah reda. Suasana menjadi sunyi sepi.

“Semua manusia telah kembali menjadi tanah,” kata Ziusudra.

Perahu itu kemudian berhenti di puncak Gunung Nisir.

Ketujuh hari telah berlalu dan dilihatnya air telah menyusut, ia melepas seekor merpati. Tidak menemukan pohon tempat mendarat, merpati itupun kembali. Tujuh hari kemudian, ia melepas seekor burung layang-layang. Burung layang-layang itu juga kembali. Tapi setelah tujuh hari berikutnya ia melepas seekor burung gagak, burung itu tidak kembali. Ziusudra memberi persembahan kurban dan sesajian di puncak gunung sebagai rasa syukur atas keselamatannya.

Tapi di majelis para dewa terjadi keributan. Rupanya Enlil, dewa yang telah mendatangkan badai karena kemarahannya pada umat manusia, murka karena ada makhluk hidup yang selamat, sementara dewa-dewa lain terkejut pada besarnya kehancuran yang terjadi. Ishtar, khususnya, menangis untuk umatnya, dan Enki berbicara dengan penuh perasaan tentang ketidakadilan hukuman yang diterima seluruh umat manusia atas dosa beberapa orang saja.

Enlil pun menyesali perbuatannya dan setuju menganugerahkan keabadian pada seorang manusia, Ziusudra sebagai kompensasi atas apa yang dialami ras manusia.

Gilgamesh mendengarkan kisah tentang bagaimana Ziusudra menjadi abadi dengan seksama. Jika seorang fana menjadi abadi, ia berpikir, tentunya ada kemungkinan untuk seorang fana lain – terutama orang seperti dirinya? Dia akan menjadi makhluk fana pertama yang menjadi abadi hanya dengan kemampuan kehendak semata. Ziusudra tertawa.

“Kau bahkan tidak bisa terhindar dari tidur lelap selama 6 hari 7 malam,” ia memberitahu Gilgamesh, “bagaimana kau berharap bisa menghindari kematian?”

Gilgamesh menyombong bahwa tentu saja ia bisa terjaga selama 6 hari 7 malam dan bersiap-siap membuktikannya.

Istri Ziusudra memanggang kue, dan tiap malam Ziusudra meletakkannya di samping ranjang Gilgamesh sebagai kudapan pada malam hari. Tapi tiap malam pula kue itu tidak dimakan karena Gilgamesh selalu tertidur.

Gilgamesh dipaksa mengakui kekalahan dan Urshanabi diperintahkan untuk membawanya kembali lewat jalur yang sama. Ziusudra memberi sang raja pakaian baru yang bersih, dan Gilgamesh membersihkan dirinya sebelum pergi.

Ketika berpisah, Ziusudra tergerak untuk memberinya sebuah hadiah. Ia memberitahu Gilgamesh salah satu rahasia para dewa. Rupanya memang ada sekuntum bunga yang menganugerahkan keabadian – tapi bunga itu tumbuh di bawah laut dimana tak seorangpun manusia mampu mengambilnya.

Gilgamesh yang tidak merasa takut, mengikat batu pada kakinya dan meluncur turun dari permukaan. Ia menemukan tanaman itu, mencabutnya, dan membawanya kembali.

“Aku akan memberikannya pada rakyatku,” seru kemenangan Gilgamesh, “dan kami akan hidup selamanya!”

Ziusudra menyaksikannya pergi dan bertanya-tanya apakah Gilgamesh benar-benar akan mendapatkan keabadian.

Perjalanan kembali begitu jauh dan banyak bahaya di sepanjang jalan menuju keluar.

Gilgamesh memegang tanamannya hati-hati dan 69 mil (111 km) kemudian potongan kecilnya putus tiba-tiba. Setelah 103 mil (166km) ia beristirahat di samping kolam. Ketika ia menyegarkan diri dengan air kolam, seekor ular merayap keluar dari balik batu, mencium aroma bunga. Secepat kilat, ular itu menyambar tanaman dan menyantapnya. Dengan rasa ngeri, Gilgamesh sempat melihat kulit sang ular mengelupas dan memulihkan diri sebelum meluncur pergi.

Untuk beberapa waktu ia duduk di pinggir kolam meratapi nasibnya. Tidak ada lagi yang bisa dilakukan sekarang selain pulang dengan tangan kosong. Dengan letih, ia berjalan pulang ke Uruk dan kemudian, memandang kotanya dari atas bukit, ia berhenti. Apa yang ia lihat adalah tempat yang baik dengan ziggurat-ziggurat, istana-istana, dan kuil-kuil yang megah; dengan taman-taman dan jalan-jalan lebar dimana orang-orang berjalan riang ke atas dan bawah, anak-anak tertawa, dan para kekasih berciuman.

Ia menegakkan tubuhnya dan meluncur turun untuk mengklaim kembali kerajaannya.

1 comment:

Ninna Dharmawan said...


Segera daftarkan diri anda dan bermainlah di Agen Poker, Domino, Ceme dan Blackjack Nomor Satu di Indonesia SALAMPOKER(COM)
Jadilah jutawan hanya dengan modal 10.000 rupiah sekarang juga !

Berita Antar Dunia

Pusat Berita Dunia-Dunia